AKHIR SEBUAH PENGORBANAN

Bookmark and Share

Diantara teman-teman sekelasku, orang yang aku kagumi dan kubanggakan adalah Nandito. Bukan karena motor  yang ia bawa tetapi karena kepribadian, kecerdasan, maupun krtulusan hati membantu siapa saja yang membutuhkannya,tanpa terkecuali. pagi ini tak seperti biasanya ia datang dengan wajah  muram, tanpa senyum,pucat pasi dan ada memar di dagunya.
“Pagi Ditooooo,” sapa temen-temen serentak seperti biasanya.
“Pagi”. jawabnya tanpa menoleh.
Teman-teman bengong, bertanya-tanya tentang perubahan pada diri Nandito. Kuikuti dia menuju bangku. Dengan pelan kusapa.
“Hai,Dito.”
“Hai,Alicia.”balasnya dengan malas.
“Dit,kamu ko’ ga’ seperti biasa dan ada memar diwajahmu?”tanyaku sambil menunjukkan dagunya yang biru.
“dicium kuda.”jawabnya sambil tersenyum tipis.
Mendengar itu aku tertawa.Dito pun ikut tertawa, walaupun terdengar sumbang. tiba-tiba kulihat ada air mata menetes membasahi  buku didepannya.
“Dito,kamu kenapa sich, ngomong donk, kalau ada masalah, ”pintaku.
Dit, nanti istirahat kutunggu di kantin,” kataku sambil berlalu meninggalkannya ditempat dudukku.
Selama pelajaran, tak satupun yang singgah dipikiranku,yang ada hanya ingin segera mendengar bunyi bel istirahat,yang kutunggu akhirnya berbunyi juga,segera ku bereskan buku-buku pelajaran dan langsung pergi ke kantin,ada juga temen-temenku yang lain.Aku dan Nandito pergi agak menjauh,agar tak ada yang mengganggu Nandito bercerita.
“Dit sebenarnya ada apa sich?” tanyaku memulai.
“Alicia, kamu tahu nggak aku,” jawabnya,
Nggak tahu gimana, kamu kan Nandito temanku,” bantahku.
“Bukan itu maksudku, kamu kan nggak ngerti  tentang kehidupanku yang sebenarnya meskipun aku tinggal serumah dengan orang tua dan saudara-saudaraku, tetapi aku tak dianggap sebagai anak dan sebagai saudara.Aku seperti orang asing, setiap omonganku tak pernah mereka dengar,” ceritanya lagi.
“begitulah aku.diantara delapan saudaraku,aku anak nakal. Dan akibatnya pergaulanku nggak karuan, aku harus menerima akibat seperti  ini. Aku suka ngelayap,jarang pulang. Aku terpengaruh oleh teman-teman yang liar.Aku kecanduan obat.
“Apa, jangan ngawur kamu!”
“memang benar, ya beginilah aku.”
“lalu sejak kapan?”
“satu tahun yang lalu.”
“gila,lalu sekarang?”
“masih seperti dulu, masih suka obat terlarang.”
“teng,teng,teng………..” tiba-tiba bel berbunyi.
Dengan  langkah berat aku dan Dito menuju kelas.
“Sebenarnya, aku masiih punya banyak cerita kalau kamu mau, kita bisa pulang bersama?” katanya lagi.
“Beres, tunggu aku di gerbang depan.” Jawabku sebelum kami berpisah menuju tempat duduk masing-masing.
Kami akhirnya pulang bersama-sama. Tapi tak ada motor diparkir.
“Sorry lic, motorku masuk bengkel. Tadi malam kena pukul.”
“Oh iya, aku lupa Tanya itu, lalu apa hubungannya motor dengan wajahmu?”
“Aku cari uang sendiri dengan cara jual beli obat. Lalu tadi malam motorku dipinjam teman, katanya mau dijualkan, eh, nggak tahunya malah ditukar obat, lalu dirusak.”
Aku tau kini siapa nandito sebenarnya. Ia begitu tersiksa dengan sikap orangtuanya dan saudara-saudaranya. Ia kecewa dengan orang tuanya yang tidak pernah peduli padanya. Untuk biaya sekolah, ia cari uang sendiri. Tiap malam ia berdagang ekstasi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan adiknya yang diperintahkan orang tuanya untuk menanggungnya. Ia sering mempertaruhkan nyawa dengan berbuat dosa, walau sebenarnya ia ingin kembali kearah yang benar.
Tiga bulan setelah ia bias melupakan obat terlarang, tiba-tiba dito  tidak masuk sekolah selama seminggu tanpa ada keterangan. Suatu saat, ia dating ke rumah. Dito dating dengan mata merah, entah karena kurang tidur atau karena pengaruh minuman keras.
“lic, ayahku sakit keras, masuk rumah sakit,” katanya pilu.
“Sakit apa? Sejak kapan? Kenapa,” tanyaku bertubi-tubi
“ ayahku terkena stroke sejak 20hari yang lalu.”
“Kenapa kamu nggak ngomong?”
“Aku nggak ingin kamu sedih.”
“Lalu kenapa kamu nggak sekolah, tanpa keterangan?”
“Aku menunggu ayah siang dan malam. Ayahku minta hanya aku yang menunggunya. Sementara saudara-saudaraku yang ia sayangi, tak ada satupun yang mau menunggu.”
“Kenapa mereka nggak mau?”
“Selain tidak mau, ayahku tak menginginkan mereka menunggu.” Kamu nggak tau, kalau aku kembali ke masa lalu, ke obat.”
“Gila! Memang kamu masih kurang puas, buat apa?”
“Terpaksa, saudaraku tak mau member serupiahpun untuk biaya obat dan rumah sakit.”
“Kenapa kamu nggak ngomong, aku kan bisa bantu.”
            Aku merasa kasihan padanya, betapa tersiksa dia. Dengan bertaruh  nyawa ia bersaing dengan sesama pengedar obat terlarang, hanya untuk mencari uang. Dengan sangat terpaksa ia melakukan transaksi obat terlarang, demi segelintir nyawa orang yang paling ia hormati, AYAHnya.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar

Powered By Blogger